Dorongan Penerapan Inovasi Aspal Karet

SUMATERA EKSPRES, 5 Desember 2017             Hal. 1  Kol. 1

MUBA

Dorongan Penerapan Inovasi Aspal Karet

PALEMBANG – Harga karet berfluktuatif, sa­ngat bergantung kondisi pasar internasional. Untuk

mendapat nilai yang bagus, perlu sentuhan inovasi. Salah satu yang mungkin dilakukan, pro­ses hilirisasi menjadi aspal karet.

Implementasi tekno­logi baru itu memang membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Namun, mun­gkin untuk dilakukan dan hasilnya menjanjikan. “Inovasi aspal karet ini me­miliki keunggulan dan perlu disegerakan” kata Di­rektur Pusat Penelitian Karet Bogor, Dr. Karyudi.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Rembuk Nasional Menjadikan Karet sebagai Bahan Baku Aspal di Hotel Aryaduta Palembang, kemarin (4/12). Kondisi jalan aspal saat ini banyak belum memenuhi kualitas yang diinginkan.

Mahal, Lebih Tahan Lama

Cuaca dan beban berlebihan angkutan mempercepat ke­rusakan jalan. Nah, aspal berbahan baku karet dinilai cocok menggantikan aspal jalan saat ini. Daya tahannya 50 persen hingga 100 persen lebih lama dari aspal konven­sional. “Jadi, kalau jalan pakai aspal konvensional bisa tahan 6 tahun, maka jika dilapisi aspal karet bisa tahan 9 hing­ga 12 tahun;” jelasnya. Men­urut Dr. Karyudi, teknologi ini sudah diterapkan di Thailand. Inovasi di Negeri Gajah Putih tersebut mampu menyerap hingga 7 ribu ton karet produksi negara tersebut.

Aspal karet itu bersifat elas­tis, lentur dan dapat digunakan sebagai aditif, untuk memperbaiki kualitas aspal. Jenis karet yang dapat digunakan adalah Lateks Pekta, SIR 200, dan Brown Crepe Blanket. Kelebihan dari aspal karet ini yaitu tidak lunak/lembek lebih tinggi, lengket terhadap agregat, lebih elastis, dan fleksibel, dan lebih kedap air. Keunggulan lain, dapat mengurang kebisingan pada jalan raya, serta daya tahannya lebih lama.

“Ini tentunya menjadi ke­untungan,” kata Dr. Karyudi. Pihaknya bersama Kemente­rian PU dan Perumahan Ra­kyat (PU-PR) telah melalukan uji coba aspal karet di tiga daerah. Yakni di Lido, Suka­bumi sepanjang 2 kilometer. Lalu, daerah Sawangan Depok sepanjang 600 meter dan Ka­bupaten Karawang sepanjang 500 meter. Rencananya, aspal karet juga akan digunakan pada jalan-jalan di kompleks Istana Presiden akhir tahun ini. “Teknologi ini sudah siap. Ada dua perusahaan yang da­pat memproduksi aspal karet lateks ini. Lokasinya di Bogor dan Cilacap,” sebutnya.

Saat ini ada tiga teknologi pengolahan aspal karet. Ya­kni, karet berbasis lateks, karet berbasis masterbatch/kompon padat, dan karet ber­basis serbuk karet. Tentunya, ketiga jenis aspal karet yang dihasilkan punya kelebihan dan kekurangan tersendiri.

“Sumsel memang belum (uji coba, red) masih koordi­nasi, makanya dimulai deng­an kegiatan rembuk nasional. Diharapkan Muba bisa jadi pionir untuk program ini di Sumsel,” tutur Dr. Karyudi. Soal biaya, penerapan aspal karet ini membutuhkan biaya lebih tinggi 20-25 persen dari aspal konvensional. Bupati Muba, Dodi Reza Alex menga­takan, penerapan teknologi terbaru aspal karet harus dise­gerakan. Sebab, program ini dapat meningkatkan kesejah­teraan petani. Juga membuat pembangunan jalan lebih bagus dan tahan lama. Dengan be­gitu, dana Perawatan jalan akan lebih murah. Diungkap Dodi, pengembangan teknologi ini sangat potensial. Apalagi Muba merupakan daerah pen­ghasil karet terbesar di Sumsel. Total luas kebun karet yang ada 2,9 juta hektare. Sekitar 90 persen merupakan lahan milik petani swadaya. “Kare­nanya, perlu adanya percepa­tan implementasi aspal karet ini; katanya.

Yang paling penting, pene­rapan inovasi ini dapat meng­angkat harkat dan martabat para petani karet. Kesinam­bungan ekonomi akan sang­at terbantu. Di sisi lain, perlu kerja keras untuk meremaja­kan tanaman karet di Muba yang saat ini sebagian besar sudah tua. “Setelah sawit, Pemkab Muba juga akan mela­kukan peremajaan lahan ka­ret. Program ini mendapat respon baik dari pusat. Ada dukungan untuk segera di­realisasikan dalam waktu     dekat pungkas Dodi. Penasihat Tata Kelola Sumber Daya Alam (SDA) UNDP Indonesia, Dr Abdul Wahid Situmorang mengungkap, dari data 2016, Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor karet terbesar kedua di dunia. Tapi, produktivitas perkebunan karet di Indonesia masih ter­golong rendah jika dibanding­kan dengan negara-negara tetangga yang juga jadi peng­ekspor karet.

Indonesia hanya mampu memproduksi karet sebesar 1.080 kg per hektare. Bagai­mana di negara lain? Di Ma­laysia, produksi karetnya 1.510 kg/hektare, Vietnam 1.720 kg/ hektare dan Thailand dengan 1.800 kg/hektare. Nah, Sum­sel didominasi oleh perkebu­nan karet, angkanya sekitar 96 persen. Sekitar 19 persen berada di wilayah Muba. Diprediksi, pada 2020 pro­duksi karet alam dunia akan mencapai 11,5 juta ton. Seki­tar 70 persen karet alam dunia diperuntukan bagi indutri ban. Indonesia ditargetkan me­nyumbang 29 persen atau 3,3 juta ton karet kering. “Sumsel terutama Musi Banyuasin sebagai salah satu wilayah perkebunan karet terluas ten­tu akan mendapatkan manfaat dari hal ini,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, De­dy Junaedi MSc, mengatakan, perlu adanya peningkatan nilai tambah karet. Salah sa­tunya, menjadikan bahan primer karet sebagai campu­ran untuk pembuatan aspal seperti yang telah dilakukan di Thailand. Penambahan getah karet ini dapat mence­gah peretakan pada aspal di saat temperatur rendah dan tinggi. Karet akan bekerja sebagai bahan elastis yang meningkatkan daya tahan aspal. (yun/ce1)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


sixteen − thirteen =