Harga Anjlok, Petani Tetap Setia

HARGA ANJLOK, PETANI TETAP SETIA

Dorong Pemerintah Aktifkan BUMD

     MURATARA-Sebagian ma­syarakat Kabupaten Muratara belum setuju. Soal rencana pemerintah melakukan gerakan diversifikasi tanaman maupun perkebunan lokal. Mereka ma­sih setia dengan usahanya saat ini, yakni berkebunan karet.

Pemerintah diminta bisa lebih fokus dalam melakukan setiap kegiatan. Sebab, jika buka perkebunan baru harus memulai dari awal lagi.

“Kalau karet ini bahannya sudah ada. Hampir seluruh wilayah Muratara karet ada. Harapannya dioptimalkan sa­ja yang ada,” kata warga Desa Noman Lama, Kecamatan Nupit, Sunardi, Minggu (7/1).

Saat ini, harga karet di Ka­bupaten Muratara masih belum stabil. Akibatnya, pe­rekonomian masyarakat ma­sih lesu. Lantaran, hampir 70 persen warganya bertumpu pada komoditas tersebut. “Kalau harga karet naik daya beli masyarakat pasti naik. Tapi kalau karet turun pasar sepi pembeli,” imbuhnya.

Warga berharap ada tero­bosan dari pemerintah dae­rah. Agar harga karet bisa terdongkrak. “Kami berharap, pemerintah memperhatikan hal ini,” ucapnya.

Anggota DPRD Muratara dari Fraksi Gerindra, Taufik Anwar meminta pihak ekse­kutif bisa inventasi di sektor karet. Bisa memainkan peran dan campur tangan dalam peningkatan harga jual ko­moditas karet.

Komoditas karet bisa dike­lola dari sektor BUMD. Sehing­ga bisa ambil karet warga dan ekspor langsung ke produsen. “Kenapa harga karet selalu anjlok. Karena banyak tang­an-tangan yang memainkan harga,” ucapnya.

Untuk itu, Taufik minta pe­merintah daerah segera meng­aktifkan BUMD secepatnya. Karena di BUMD bisa dibentuk divisi khusus yang melakukan pengelolaan di bidang pertanian.

Sebab, bakal berpengaruh kepada warga. Seperti serapan tenaga kerja lokal, pembentu­kan aset perusahaan karet milik pemda. “Dan pernerintah bisa menetapkan harga beli karet masyarakat,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Ka­bupaten Muratara, Suhardiman mengatakan pihaknya menso­sialisasikan diversifikasi per­kebunan untuk mengubah pola pikir masyarakat, jika tidak berkebun karet atau kelapa sawit tidak akan mendapat keuntungan dan kesejahtera­an. Padahal, di Muratara sang­at berpotensi untuk ditanami cokelat, maupun kopi serta tanaman lainnya. “Kami akan lakukan pelatihan secara lang­sung,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


7 + 15 =